Kamis, 06 Juni 2013

Inspirasi dari Talkshow Bersama Tere Liye




Jangan tidur dulu malam ini. Ada sesuatu yang sayang untuk tidak ditulis.

Yap! Hari yang sangat menyenangkan! Alhamdulillah, acara Talkshow “Kekuatan Sebuah Pena” dari Kementrian PSDM BEM KM UGM telah selesai dilaksanakan dengan lancar. Para peserta yang datang sangat banyak sekitar 600 orang, memenuhi ruang utama Grha Sabha Pramana UGM. Mereka datang berbondong-bondong, menyempatkan diri untuk hadir, meskipun entah bagaimana skripsi atau laporan praktikum mereka. Saking banyaknya peminat, panitia membuka tiket on the spot. Wow, sold out. Memangnya, siapa sih tamu istimewa di Talkshow itu?


Ini dia. Penulis favorit saya setelah Asma Nadia, yaitu Darwis Tere Liye. Siapa sih yang tidak kenal Tere Liye? Karya novelnya cukup banyak. Sungguh, saya ketagihan membaca satu buku darinya sehingga terus membaca karyanya yang lain. Ingin sekali saya membaca semua bukunya. Gaya bahasa yang digunakan oleh Tere Liye dalam mencipta novel cukup lugas, dapat dimengerti, dan sarat akan ilmu. Hanya dengan membaca “Negeri Para Bedebah”, kita cukup mendapatkan ilmu ekonomi, politik, dan hukum. Meskipun begitu, saya mempunyai sedikit catatan tentang proses hukum yang diceritakan dalam novel tersebut. Namun, bukan ini yang ingin saya tulis di sini. Insya Allah, lain waktu saya akan membahasnya.

Dalam talkshow tadi, Bang Tere Liye membagi sedikit tips agar kita rajin menulis. Beliau mencontohkan beberapa kisah yang cukup inspiratif tentang kekuatan sebuah pena.

Kisah pertama, tentang 3 dokter perempuan yang cantik hatinya. Mereka diwisuda bersama, kemudian membuat perjanjian akan bertemu 10 tahun mendatang. Mereka juga bersaing secara sehat untuk mencari pasien sebanyak-banyaknya. Siapakah di antara mereka yang mempunyai pasien paling banyak? Dokter pertama telah menolong 10.000 pasien. Dokter kedua telah menolong 100.000 pasien karena menjadi dokter dalam bencana alam Tsunami di Aceh. Dokter ketiga bingung karena nasib buruk menimpanya. Tiba-tiba, ibunya sakit keras sehingga membutuhkan pertolongan khusus. Maka, dengan pengalamannya mengenyam pendidikan dokter, dokter ketiga ini merawat ibunya dengan sepenuh hati. Kemudian, di sela waktu senggangnya, dia menulis di blog tentang segala hal yang berhubungan dengan dunia medis. Blognya ini telah dikunjungi oleh banyak orang. Sampai akhirnya, seorang editor sebuah penerbitan membaca blognya. Kemudian, tulisannya dibuatkan buku yang ternyata laris di pasaran. Kesimpulannya, ternyata dokter ketiga ini lah yang mempunyai paling banyak pasien dibandingkan dengan dokter pertama dan kedua.

Kisah kedua, tentang seorang ibu rumah tangga yang bingung ingin menulis apa. Sebab, ibu ini selalu disibukkan dengan rutinitas kerumahtanggaannya setiap hari. Kemudian, ibu ini berkonsultasi ke Bang Tere Liye. Bang Tere pun bertanya tentang hal yang paling disukainya. Ibu ini menjawab bahwa hal yang paling disukainya adalah memasak. Lalu, bang Tere meminta ibu ini untuk menulis tentang resep masakan saja. Setiap hari, ibu ini memasak tiga kali. Setiap selesai memasak, ibu ini menulis di blog tentang resep masakan yang baru saja dimasak. Tak terasa, sudah lebih dari 3000 resep masakan telah diterbitkan di blognya. Pengunjung pun berdatangan membaca blog ibu tersebut. Sampai akhirnya, seorang editor melihat blog tersebut dan membuatkannya buku tentang resep masakan ibu ini. Sama seperti si dokter ketiga di atas, buku ibu ini juga laris di pasaran. Sebab, resep yang ditulis oleh ibu ini mudah dibuat dan bahan-bahannya mudah dicari, tidak seperti buku resep masakan yang lain. Dalam setahun, ibu ini mendapatkan royalti sebesar Rp 300 juta.

Luar biasa bukan, kekuatan sebuah pena? Kadang kita menganggap remeh hal-hal kecil yang kita sukai. Tetapi siapa tahu, ternyata tulisan kita dibutuhkan oleh banyak orang.

Agaknya, kisah ibu rumah tangga yang pandai memasak itu juga pernah saya alami. Tetapi, bukan berarti saya pandai memasak, lho. Saya pernah menerbitkan satu resep masakan yang pernah saya praktikkan. Saya memberinya judul yang menarik: “Ikan Nila Asam Manis ala Chef Cipuk Quinn”. Sejak diterbitkan pada tanggal 26 Januari 2011, resep tersebut telah dilihat sebanyak 1011 kali. Artikel ini masuk dalam daftar “Popular Post” di blog saya di urutan nomer 2.

Itulah hal-hal yang menginspirasi saya hari ini. Saya suka menulis, meskipun tidak tahu ingin menulis apa. Setidaknya, jika sedang tidak ada inspirasi, Twitter tetap jalan. Bang Tere Liye berkata, “tulis-tulis aja”. Artinya, apa saja yang ingin kita tulis, tulis saja apa adanya. Lama-kelamaan, tulisan akan mengalir dan semakin banyak huruf yang kita ketik.

Maka dari itulah, saya bergabung dengan Writing Mentorship, sebuah komunitas menulis di UGM yang dimentori oleh Mas Ribud. Bersama komunitas tersebut, kami ingin menginspirasi semua orang dengan tulisan kami.

Yeah, just write what you want to write!
Menulis mendunia: ease the world by the words!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar