Rabu, 06 Juli 2016

Setelah Sang Ramadhan Undur Diri

wall.alphacoders.com

Telah tiba suatu masa ketika telinga sangat sensitif terhadap pesan Whatsapp yang baru datang, tetapi pura-pura budeg ketika suara adzan berkumandang.

Ya, itu terjadi pada awal bulan Syawal ini. Sebagian orang telah lupa bahwa mereka baru saja menyelesaikan puasa selama 30 hari di Bulan Ramadhan. Pada Bulan Ramadhan, kita menyibukkan diri dengan berbagai macam ibadah, seperti: puasa, tilawah, shalat wajib, rawatib plus tarawih, juga ditambah dengan shalat witir.Sedekah pun tak luput dari tangan.

Telinga kita sangat sensitif dengan suara adzan, terutama adzan shubuh dan maghrib. Kita pun segera menyambut panggilan-Nya. Mungkin hanya orang aneh yang mengabaikan adzan maghrib. Tapi kini, telinga kita seakan disumpal kain tebal setelah Sang Ramadhan undur diri.

Mengapa demikian? Mari kita maknai kembali hakikat dari puasa selama 30 hari di Bulan Ramadhan. Seperti Diklat Prajabatan bagi CPNS, Ramadhan adalah masa aktualisasi penerapan nilai-nilai dasar. Pada saat Diklat Prajabatan,CPNS belajar teori tentang nilai-nilai dasar Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi (ANEKA) kemudian dipraktikkan pada saat off campus atau masa aktualisasi. Masa aktualisasi adalah masa percobaan dan pelatihan agar CPNS terbiasa menjalankan nilai-nilai dasar ANEKA ketika sudah diangkat menjadi PNS.

Demikian halnya dengan ibadah. Kita belajar tentang teori beribadah secara keseluruhan. Kita latih diri kita dengan menerapkan teori beribadah: puasa dengan sempurna sejak fajar hingga senja, memperbanyak dan memperbaiki kualitas shalat, menghindari hal-hal yang tidak bermanfaat seperti menggunjing orang lain, menjaga nafsu, serta menghindari maksiat. Kita terapkan teori-teori tersebut saat Bulan Ramadhan agar terbiasa dengan ibadah secara syumul setelah Sang Ramadhan undur diri.

Jika ada yang merasa bahwa ketika beribadah masih kurang nyamanatau kurang nge-feel sehingga merasa berat saat beribadah pada Bulan Ramadhan dan kembali kepada kebiasaan buruknya setelah Sang Ramadhan undur diri, ingatlah bahwa hal tersebut adalah ujian: sejauh mana kita menyertakan iman dalam ibadah. Jika tidak, ibadah akan terasa kering. Ujian iman adalah ibadah. Puasa dilaksanakan tidak hanya sebatas formalitas, tetapi harus dilandasi dengan semangat iman, seperti yang diperintahkan dalam QS. Al Baqarah ayat 183.

Pada saat berpuasa, iman seperti lidah bagi makanan. Jika kita makan dengan lidah yang dilakban, bagaimana rasanya? Orang yang melaksanakan puasa tanpa iman akan cepat mengeluh karena lapar. Sebaliknya, orang yang berpuasa dengan berbekal iman akan ikhlas menjalankannya sampai adzan maghrib. Selain itu, puasa yang dilandasi oleh iman akan mengantarkan kita pada hasil dan maksud. Contoh hasil adalah tertunaikannya syarat dan rukun dengan baik. Selanjutnya, hasil akan mengajak kita kepada maksud. Contohnya, banyak orang yang menunaikan shalat tetapi masih melakukan maksiat. Bukankah shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar? Maka sebaiknya, kita harus benar-benar memahami tujuan dan teori-teori dalam beribadah, serta harus kita pratikkan secara syumul.[1]

Jadi, sudah sejauh mana kita menyertakan iman dalam berpuasa di Bulan Ramadhan, akan terlihat setelah Sang Ramadhan undur diri. Jika CPNS melaksanakan aktualisasi dengan terpaksa namun menginginkan hasil “Sangat Memuaskan”, bisa jadi mereka akan melakukan kecurangan pada saat aktualisasi. Akibatnya, pada saat sudah diangkat menjadi PNS, mereka enggan untuk menerapkan nilai-nilai dasar ANEKA sehingga kualitas birokrasi pemerintahan tidak akan berubah menjadi lebih baik. Demikian halnya dengan Bulan Ramadhan. Jika kita menjalankan ibadah di Bulan Ramadhan tanpa dilandasi dengan iman, kita masih tetap bergelayut dengan kebiasaan buruk kita setelah Sang Ramadhan undur diri.

Andai bulan-bulan Hijriyah dapat berbicara, pasti Bulan Syawal akan protes karena semangat ibadah kita menurun pada bulan ini (Silakan baca tulisan saya tentang kecemburuan Syawal di: “Kisah Si Sya’ban, Si Ramadhan, dan Si Syawal”). Ayolah, perbaiki lagi niat kita dalam beribadah kepada Allah, yaitu menyertakan iman dalam setiap ibadah kita. PR besar kita adalah setelah menghidupkan Ramadhan adalah: meramadhankan hidup.

Tulisan ini ditulis bukan untuk menggurui, tetapi sebagai pengingat Penulis jika futur.
Mohon maaf lahir batin. Taqabalallahu minna wa minkum. Shiyamana wa shiyamakum.


Ditulis di Srandakan, 1 Syawal 1437 H, bertepatan dengan hari kelahiran.




[1] Disampaikan oleh Ustadz Syatori dalam KRPH dengan sedikit penambahan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar