Minggu, 28 Agustus 2016

Papandayan, Awal Sebuah Persahabatan (Part 1)

Saya bosan naik lift. Saya ingin naik gunung!

Ketika diri ini sudah penat dengan berbagai kertas di meja kerja, layar laptop yang terus menyala, serta hiruk-pikuk kendaraan kota, hati-hati, dirimu sedang menyalakan sinyal untuk piknik, Cipuk!

Naik gunung, adalah sebaik-baik piknik. Naik gunung sudah menjadi wacana bersama teman-teman kantor dan teman-teman arisan Jabodetabek, namun tidak kunjung menemukan ujung, karena keputusannya menggantung.

Akhirnya, 17 Juli 2016, Alin mengajak saya untuk bergabung bersama rombongan teman fakultasnya naik Gunung Papandayan pada tanggal 22 – 24 Juli 2016. Equipments buat naik gunung sih sudah saya persiapkan jauh-jauh hari sejak ‘wacana’ naik gunung terdengar pertama kali. Maka, ketika panggilan naik gunung menjadi nyata, tanpa ragu saya bilang “iya”.


Sebagai persiapannya, kami membuat grup Whatsapp. Betapa kagetnya saya ketika cowok-cowok satu per satu mengundurkan diri dari rombongan dengan berbagai alasan. Kini, tinggal satu laki-laki yang bertahan: Mas Roni. Saya pun menyatakan kekhawatiran saya karena menurut pengalaman ketika naik gunung bersama teman-teman THA, jumlah cowok harus lebih besar daripada jumlah cewek. Cowok harus berfungsi sebagai leader dan sweeper. Posisi ini sangat dibutuhkan ketika jalan malam. Bagaimana jika hanya ada satu orang cowok? Mas Roni pun akan menjawab akan mencari rombongan lain, seperti pengalaman naik gunungnya sebelumnya. Akhirnya, berangkatlah kami pada Jumat malam, 22 Juli 2016, dengan anggota: 4 cewek tanpa tanggungan (Cipuk, Alin, Meissha, dan Devi) plus 2 orang suami istri (Mas Roni dan Mbak Efit).

Kami berkumpul di pool bus Primajasa Cililitan jurusan Garut dan berangkat pukul 20.30 WIB. Kami sampai di Terminal Guntur Garut pada Sabtu pagi, pukul 2.30 WIB. Sampai terminal, kami menuju tempat persewaan alat-alat outdoor yang cukup dekat dengan terminal untuk menyewa beberapa peralatan yang tidak kami bawa. Setiap akhir pekan, terminal Garut selalu ramai oleh orang-orang yang ingin naik gunung karena Kabupaten Garut memiliki tiga gunung favorit untuk didaki, yaitu Gunung Papandayan, Gunung Cikuray, dan Gunung Guntur. Maka ketika sopir angkot melihat rombongan yang menggendong tas carrier, mereka langsung bertanya tentang tujuan pendakian kami. Setiap tujuan pendakian akan diantar dengan angkot yang berbeda.

Untuk pendakian menuju Gunung Papandayan, kami diantar dengan angkot warna biru-putih sampai Alun-Alun Cisurupan. Kemudian, kami berpindah naik mobil pick up yang diisi oleh 17 penumpang menuju Camp David. Di mobil pick up, kami berkenalan dengan rombongan lain, yaitu dua pasang pacar, sebut saja A dan B, juga C dan D, kemudian rombongan 7 cowok alumni BSI: Rizki alias Blek, Jojo, Dheo, Agung, Fadli, Teuku Bahagia alias Tebe, serta sang fotografer Nasuha alias Nana (cerita tentang mereka akan saya ceritakan di akhir). Rombongan saya pun memutuskan untuk bergabung bersama rombongan mereka.

Formasi awal, ki-ka atas: Mas Roni, C, Cipuk, Mbak Efit, D, Devi, Alin, Meissha, Agung, Blek, Jojo, Tebe.
Ki-ka bawah: Fadhli, Nana, Dheo

Setelah sampai di Camp David, kami shalat shubuh dan sarapan, kemudian berkumpul untuk briefing sebelum pendakian. Kami menghitung jumlah anggota dalam satu rombongan, terhitung ada 15 orang, tanpa pasangan A dan B. Sekarang, jalur pendakian Papandayan memiliki jalur pendakian yang baru. Jalur pendakian lama sedang diperbaiki oleh PT. Asri Indah Lestari dan hanya digunakan untuk turun gunung. Untuk naik gunung, kami melalui jalur baru yang lebih jauh karena memutar hutan, tetapi lebih aman dari efek langsung belerang di kawah Papandayan. Trek jalur pendakian yang baru ini cukup mudah karena banyak ‘bonus’ (tempat landai untuk beristirahat). Selain itu, sepanjang jalan cukup rimbun oleh naungan pohon-pohon. Sebaliknya, untuk jalur pendakian yang lama, kita akan langsung terpapar matahari, tercium bau belerang lagi.

Pada saat berjalan dari Camp David menuju jalan di atas kawah, kami kehilangan pasangan C dan D. Kami sudah bertanya kepada rombongan lain apakah melihat cowok dan cewek dengan ciri-ciri seperti ini dan itu, namun tidak ada yang melihat. Dugaan kami, mereka berdua sudah naik mendahului kami namun tidak pamit dengan kami. Saya mengkhawatirkan si cewek karena tidak memakai outfit standar naik gunung. Dia justru memakai gamis, sendal jepit dan tas backpack biasa. Ya sudah, cukup 13 orang saja, semoga tidak ada yang meninggalkan rombongan lagi.

Note:
Pastikan jumlah anggota yang naik gunung = jumlah anggota yang turun gunung. Untuk menjaganya, ingat betul orang yang ada di depan dan belakangmu. Jika ingin meninggalkan rombongan, izin dulu dengan rombongan.

Di atas kawah

Pendakian kami lanjutkan dengan melewati jalan di atas kawah. Betapa kagetnya saya, di jalur pendakian banyak orang jualan. Lebih kaget lagi, di jalur pendakian ada jalur buat motoran! Jika mendaki melalui jalur motor, akan terasa lama. Maka, kami memutuskan untuk melewati jalur shortcut menuju Ghober hut. Yeah, naik gunung itu nggak seru kalo nggak lewat shortcut. Setelah sampai Ghober Hut, kami beristirahat sebentar sambil makan cilok. Apa?? Makan cilok di gunung?? Iya, ada yang jualan cilok di Ghober Hut. Itulah keajaiban Papandayan.
Makan cilok di Ghober Hut

Kira-kira pukul 10.30 WIB, kami melanjutkan pendakian menuju Pondok Saladah, tempat ngecamp. Tempat ini menjadi tempat ngecamp terakhir sebelum menuju puncak. Tempatnya luas dan landai, sehingga dapat menampung ratusan dome. Kita juga akan dimanjakan dengan wanginya bunga edelweiss. Namun semakin bertambah kaget saya, karena di tempat ini penjualnya lebih banyak. Saya jadi ingat ketika SD, saya mengadakan kemah pramuka satu kecamatan di lapangan Kedungbule. Kami mendirikan tenda, namun tetap saja, di pinggir lapangan terdapat banyak warung sehingga kami tidak benar-benar belajar survival.

Namun kami tidak tergiur dengan warung-warung tersebut karena perbekalan kami sudah cukup untuk bertahan hidup. Kami berprinsip: “naik gunung itu susah, jadi makannya ga usah dibikin susah”. Hal yang paling seru ketika naik gunung adalah makan bersama dalam satu wadah. Alhamdulillah, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Kami memutuskan untuk summit attack esok hari karena untuk menuju puncak dibutuhkan waktu sedikitnya enam jam. Dikhawatirkan, kami akan sampai puncak saat hari sudah gelap. Baiklah, kami beristirahat sambil menunggu cuaca tidak terlalu panas untuk menikmati keindahan Hutan Mati. Jarak antara Pondok Saladah dan Hutan Mati tidak terlalu jauh, hanya setengah jam. Namun sayang, ketika kami sampai di Hutan Mati, awan hitam datang di atas kami dan berubah menjadi rintik hujan yang membasahi. Baiklah, kami akan kembali ke Hutan Mati esok hari.

Pasukan berjas hujan warna-warni

Malam harinya di dome, kami memasak makan malam dan membuat api unggun. Kami belum cukup mengenal satu sama lain sehingga malam itu kami manfaatkan sebagai malam keakraban. Sayangnya, saya memilih untuk hibernasi di dome karena saya tidak kuat begadang :p

Apa yang terjadi keesokan harinya? Lanjutkan baca: Papandayan, Awal Sebuah Persahabatan (Part 2)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar