Selasa, 19 April 2016

Saya Bekerja, Anda Berumah Tangga (1)



Memasuki Bulan April, wanita Indonesia siap untuk menyambut Hari Kartini. Banyak yang memesan kebaya untuk mempercantik diri. Hari itu juga lekat dengan kata “emansipasi”. Namun bagi saya, Hari Kartini menimbulkan kegundahan tersendiri.

Sudah hampir setahun saya bekerja di Jakarta. Kesibukan di kementerian ini membuat orang-orang terdekat saya bertanya dengan pertanyaan mainstream, you know lah itu apa. Banyak yang menyarankan agar jangan terlalu larut dalam pekerjaan sehingga melupakan momen penting dalam hidup: pernikahan. Iya, tentu saja saya tetap memikirkannya.

dreamatico.com



Dalam masa penantian ini, saya teringat pada perdebatan lama yang tidak kunjung ada habisnya, yang membuat para jomblowati ikut gelisah memikirkan masa depannya. Topik debat tersebut yaitu tentang ibu rumah tangga (IRT) vs ibu bekerja (IB). Masing-masing pihak mempunyai pendapat yang tidak bisa dikatakan salah. IRT adalah profesi yang paling mulia dari segala profesi apapun. Ibu akan selalu dekat dengan anak-anaknya, melihat perkembangan mereka, dan mengontrol pergaulan mereka agar tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas. Plus, fakta bahwa teman-teman saya yang sejak menikah memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga semakin membuat masa penantian saya berubah menjadi sedikit goyah: “mungkinkah masih ada ikhwan shalih yang mau menikah dengan PNS yang sibuk, sering keluar kota, mengurusi seabrek urusan lingkungan hidup dan kehutanan Indonesia?”

Perdebatan itu masih sering saya temukan di media sosial. Pernah suatu ketika di sebuah grup Whatsapp yang saya ikuti, ada seorang IRT yang membanggakan aktivitas IRT. Padahal, dalam grup tersebut ada seorang PNS yang bisa membagi waktunya antara pekerjaan dan keluarga. Akhirnya, Ibu PNS tersebut keluar grup. Saya juga pernah didebat di BBM ketika saya menulis status tentang kekaguman saya pada IB yang setiap hari memompa ASI-nya untuk persedian si kecil di rumah ketika dirinya pergi bekerja. Orang tersebut berkata, “Yang paling baik bagi seorang ibu itu ya ngga usah bekerja. Inget dulu waktu masih nunggu jodoh, mintanya sampe nangis-nangis sama Allah, pas dikasih anugerah anak kok ditinggal kerja?!” Moms, please! Stop that annoying endless debate! Why don’t you just respect each other?

Adapun dalam grup lain yang beranggotakan akhwat-akhwat kece dari UGM 2009 (:p), alhamdulillah, sejauh ini grup tersebut tidak mempermasalahkan masa depan kita nanti akan menjadi working mom atau staying-at-home mom. Kami justru saling memberi tips jika pada akhirnya nanti kita akan menjadi ibu bekerja – hal yang sangat berbeda dengan grup yang saya sebutkan sebelumnya. Pesan dari seorang teman dalam grup tersebut yang saat ini menjadi ibu rumah tangga setelah menikah, yaitu apapun pilihan yang diambil, hal tersebut adalah pilihan yang sesuai dengan kemampuan kita. Jika memang mampu bekerja sambil mengurus keluarga, silakan lakukan. Jika tidak, menjadi ibu rumah tangga bukanlah pilihan yang salah.

Sejak lolosnya saya di tes CPNS 2014, saya langsung berpikir, “Oke, aku akan menjadi ibu bekerja di Jakarta. Bismillah.” Keputusan saya sudah bulat dan tidak akan saya ubah. Namun, dengan banyaknya berita anak-anak yang terjerumus ke dalam pergaulan yang salah, pelecehan seksual, atau mengidap penyakit-penyakit tertentu yang membutuhkan kasih sayang penuh dari kedua orang tuanya, niat saya sedikit goyah. Should I resign?

Di luar sana banyak PNS wanita yang memutuskan untuk keluar dari profesi PNS karena ingin fokus mengurus keluarga. Ada sedikit kegundahan dalam hati saya antara ingin fokus berumah tangga atau mewujudkan cita-cita orang tua. Mereka ingin anak terakhinya menjadi PNS karena kedua anak sebelumnya gagal menjadi PNS. Saya pun mencoba mengikuti tes CPNS 2014 dan resign dari LBH Yogyakarta. Setelah tes, saya hanya bisa pasrahkan semua pada Allah. Sungguh, saya tidak berharap lebih. Doa yang saya panjatkan terus saat itu hanyalah, “Ya Allah, jika ini memang rezekiku, maka berikanlah padaku.”. Dan ternyata, memang benar ini adalah ladang rezeki dan pahala saya.

Kementerian atau lembaga negara lain cukup ketat dalam penerimaan tes CPNS dan pengaturan kepegawaiannya. Mereka mengancam akan memberikan penalti bagi CPNS atau PNS yang mengundurkan diri. Sejauh yang saya tahu, KLHK tidak memberikan ancaman penalti, jadi aman kalo mau resign, hehe. Namun bagi saya, lolosnya saya menjadi CPNS adalah amanah yang besar dari Allah dan Indonesia. Kementerian ini mengurusi banyak urusan umat. Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Insya Allah, saya bisa mengemban urusan ini. Sementara itu, Negara telah menyediakan anggaran sedemikian besar untuk belanja pegawai. Jika salah seorang pegawai mengundurkan diri, anggaran yang seharusnya dibelanjakan untuk menggaji PNS tersebut akan menjadi sia-sia dan rawan untuk diselewengkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Maka, manfaatkanlah kesempatan ini. Baik, saya tidak perlu resign.

Bagaimana Islam memandang ibu yang bekerja? Lanjutkan baca: Saya Bekerja, Anda Berumah Tangga (2)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar