Sabtu, 02 Maret 2013

Pasca Perpisahan Itu ...




Apa yang Anda pikirkan ketika membaca judul ini? Ada yang menebak saya baru saja putus cinta? Atau kehilangan kucing kesayangan? Oh tidak, Anda salah besar.

Kalau ditanya tentang hal yang paling saya benci, saya pasti menjawab: “perpisahan”. Saya termasuk orang yang suka menjalin silaturahmi, menambah relasi, dan tidak suka melakukan hal-hal yang bisa membuat persahabatan retak. Saya selalu ingat hadits riwayat Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud, “Barang siapa yang ingin dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” Dan benar saja, secara tersirat, hadits tersebut berarti rezeki semakin mudah dicari dengan bertambahnya relasi dan menjaga hubungan baik dengannya. Jika kita berhasil menjadi orang yang menebar manfaat untuk orang lain, nama kita akan selalu dikenang, serta semakin banyak orang yang mencintai kita, meskipun kita telah berada di alam yang berbeda.



Baru saja saya menambah relasi dengan teman-teman seperjuangan dari UNY, UIN Sunan Kalijaga, UNS, Undiksha, dan Unud Bali. Kami berkumpul bersama untuk menebar kemanfaatan dalam Pelayaran Lingkar Nusantara II. Hanya dalam waktu 10 hari, kami langsung akrab seolah sudah bertahun-tahun lamanya kami saling mengenal. Maka, tak heran jika begitu tiba saatnya untuk pulang ke kampus masing-masing, rasa sedih menghantui kami. Ada sepotong rasa rindu dalam hati yang harus segera disembuhkan dengan berkumpul kembali. Tapi kapan? Semoga Allah melancarkan rezeki kami sehingga kami bisa bersua kembali.

Ketika saya membenci perpisahan, berarti saya membenci pertemuan. Sebab, tak ada perpisahan tanpa ada pertemuan sebelumnya. Mari bersahabat dengan perpisahan. Bagi yang sudah menonton film “Hello Goodbye” pasti paham masalah ini. Seandainya yang berangkat Pelantara II itu hanya Genbi chapter Jogja-Solo, mungkin ceritanya akan lain. Saya tidak akan sesedih ini sekarang. Sebab, jarak Jogja-Solo lumayan dekat. Namun, kali ini ditambah dengan teman-teman dari Bali yang telah terpatri dalam hati. Dibutuhkan alat bor yang paling canggih untuk membuka patri itu jika ingin melupakan mereka.

Ketika saya baru turun dari pesawat hari Senin, seharusnya saya siap menjalani hari-hari normal di kampus. Lombok dan Bali telah selesai dijelajahi. Kini saatnya menjelajahi kawah candradimuka advokasi bersama BEM KM UGM. Namun, ternyata saya masih belum move on. Jika Anda mengartikan move on adalah orang yang baru putus cinta kemudian menemukan pacar baru, saya tidak. Saya mengartikan move on itu adalah kebangkitan pasca kesedihan.

Hari Senin, saya belum dalam keadaan 100%. Sepertinya, saya membutuhkan 5 botol mizone agar tubuh ini bisa kembali berjalan dengan tegak, menatap ladang amal dengan pikiran fresh. Sore harinya, saya langsung rapat bersama PH BEM KM. Bolehlah raga saya di ruang sekretariat, tapi pikiran saya entah ke mana. Selalu terbayang wajah teman-teman Bali dan penuh rencana bagaimana bisa ke Bali lagi, atau merencanakan suatu acara yang diselenggarakan oleh Genbi Jogja agar gantian mereka yang ke Jogja. Siapa bilang saya gembira? Saya hanya menyembunyikan ekspresi kesedihan. Ketika saya menyendiri, air mata pun siap menemani.



Hari Selasa, masih dengan kesedihan yang sama, bahkan lebih parah mungkin. Bangun tidur rasanya meriang, hidung masih meler, batuk semakin mengikil. Maka, saya memutuskan untuk tidak ke kampus. Hari ini full day untuk memulihkan kondisi badan dulu. Saya gunakan untuk tidur siang selama 3 jam. Malam harinya, pergi ke pijat langganan saya di dekat kos.

Sengaja saya tidak langsung ke dokter untuk minta obat. Saya rasa, akhir-akhir ini saya sudah kebanyakan obat. 2 minggu yang lalu saya baru saja terkena asam lambung, diberi 5 macam obat. Ketika berangkat Pelantara pun, saya dibekali kapsul Lansoprazole yang harus diminum ketika sarapan untuk menurunkan kadar asam lambung. Oh, bayangkan jika saya harus minum obat flu dan batuk. Mau jadi apa ginjal saya? Ya sudah, kembali ke herbal saja. Minum tolak angin, meskipun hanya 2 bungkus saja yang berani saya minum. Pengobatan terbaik tetaplah pijat. Dengan dipijat, saraf-saraf yang tegang dapat dilenturkan kembali. Saya juga diurut dan diberi minyak yang anget. Lumayan, much better lah habis pijat.

Hari Rabu, bangun tidur badan segar. Saya ingin sekali membuang hal-hal yang membuat diri ini susah move on. Yap! Tulisan! Saya ingat cerita Pak Habibie ketika baru saja ditinggal oleh istrinya tercinta, Ibu Ainun. Tentu kita tahu bagaimana sedihnya perasaan Pak Habibie. Beliau sempat didiagnosa gila oleh dokternya. Dokternya pun memberikan 4 alternatif: tinggal di RSJ, tinggal di rumah tapi dengan dokter RSJ dan dokter dari Jerman, menceritakan masalahnya dengan orang terdekatnya, atau menyelesaikan sendiri masalahnya. Akhirnya, Pak Habibie pun memilih alternatif keempat. Beliau tumpahkan semuanya dalam novel “Habibie – Ainun”. Setelah itu, kita bisa melihat Pak Habibie sudah kembali dengan diri yang fresh.

Saya mencoba menirunya. Satu per satu, tulisan saya buat, diawali dengan “The Introduction of Pelantara”. Kemudian, disusul dengan “The Diary of Pelantara” yang berseri. Seri terakhir adalah nomer 10 yang menceritakan tentang hari terakhir saya di Bali. Tulisan ini selesai pada hari Jumat. Setelah itu, apa yang saya rasakan? Alhamdulillah, welcome to the club, Cipuk! Let’s move on!

Saya baru menyadari, ternyata kamar kos saya berantakan. Lemari baju awul-awulan, debu lantai berserakan. Sepertinya berat badan saya turun karena kemarin tidak nafsu makan. Ayo lah, ambil sapu, mandi bersih, keramas, dan maskeran untuk mengembalikan kulit putih berserinya. Ceileeeh...

Ayo Cipuk semangat! Banyak klien menunggu untuk diadvokasi!


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar