Sabtu, 30 Januari 2010

Srandakan : Dulu, Kini, dan Nanti

Masa kecilku, masa yang paling indah. Bersama teman-teman di kampung halaman tercinta, Srandakan.

Masa TK, di TK PKK 23 Srandakan. Bersama Dek Lis, Kayan, Untsa, berjalan berdampingan sambil menggoda anjing Pak Karsidi dan kami pun lari terbirit-birit karena dikejarnya. Hal inilah yang membuatku trauma dengan ANJING!! Sekali waktu, kami iseng mengintip orang mandi di rumah Pak RT dan kami pun kena marah beliau. Masa yang tidak akan kulupakan.

Masa SD, di SDN Srandakan 1. Bersama Dek Lis, Kayan, Untsa juga, kami berjalan menuju sekolah. Pulang sekolah, karena rumahku di sebelah utara jalan, diseberangkan oleh Bu Guru di depan SD, kemudian aku pulang bersama Nana, Dape. Kadang, kami mampir ke posko PDIP di sebelah timur rumahnya Mas Manto. Kalau tidak salah, di situ ada pohon rambat dan kami memanfaatkannya untuk membelit tubuh kami sendiri. Lalu, di dekat situ, ada studio musik. Studio inilah yang mengajakku untuk mulai nge-band.

Pulang sekolah, bermain bersama Dek Niken, Novi, Yuli, Diah, dkk di kebon belakang rumah, bermain pasaran. Di bawah pohon yang rindang sambil menikmati sejuknya bumi ini dan memanfaatkan sumber daya yang ada: daun pisang, daun jati, daun ketapang, dan daun wora-wari. Kadang, kami juga bermain perang-perangan, memanfaatkan tangkai dari pohon kelapa untuk dijadikan pedang. Atau, jika nyali kami kuat, memanjat pohon waru yang bengkok, berimajinasi seolah itu kuda. Aku juga pernah menguburkan Pupus, kucing kesayanganku dulu di kebon ini. Yach, masa kecilku, masa yang paling indah.

Sore hari, berangkat ke masjid, bersama Mbak Riya dan Dek Niken. Kami melewati sisi gedung serbaguna dengan hamparan pohon mahoni yang tinggi, besar, dan berserakan daunnya. Sungguh indah pemandangan dedaunan pohon mahoni yang berjatuhan itu, seperti di Amerika ketika musim gugur. Biji mahoni yang ringan itu pun bisa kami mainkan. Kami terbangkan ke atas, dan ketika akan jatuh, biji mahoni itu berputar-putar seperti baling-baling bambu doraemon. Di dalam gedung serbaguna, ada anak-anak yang berlatih pencak silat. Dalam hatiku, ingin sekali aku seperti mereka. Namun sayang, orang tuaku tidak mengizinkanku ikut silat. Jika hari Minggu, aku bersama teman-teman yang suka badminton, bermain badminton di dalam gedung serbaguna ini. Gedung ini juga dimanfaatkan untuk pentas seni dan shalat ied warga Srandakan jika hujan.

Minggu pagi, aku bersama ayah bersepeda melewati Jalan Pandansimo menyusuri indahnya Kali Progo, atau menikmati jalan Srandakan yang sejuk karena pepohonan perindang tumbuh subur, ada pohon mangga, pohon waru, dan pohon mahoni yang digalakkan oleh Pak Camat. Segala puji bagi Allah, masa kecilku sangat indah.

Kini, aku telah remaja, telah duduk di bangku kuliah. Aku jarang di rumah karena SMA dan kampusku jauh dari rumah. Sungguh hancur hati ini melihat kenyataan yang terjadi. Ketika aku duduk di bangku kelas 1 SMA, gedung serbaguna dan hamparan pohon mahoninya ludes dibabat manusia. Di situ, akan dibangun bunderan dan pelebaran jalan. Akhirnya, dengan terpaksa kami harus merelakan gedung serbaguna dan pohon-pohon mahoni. Akan tetapi, kalau dipikir, seharusnya pelebaran jalan itu tidak sampai merenggut pohon mahoni, apalagi sampai gedung serbaguna. Atau, bibir jalan hanya berjarak sekitar 1 meter dari kaki pohon mahoni. Jadi, aku pikir, 1-2 pohon mahoni masih bisa diselamatkan. Namun, nasi telah menjadi bubur. Tak ada satu batang pohon mahonipun yang tersisa.

Kini, jika kami berangkat ke masjid, tak ada lagi suasana musim gugur. Apalagi jika siang hari, yang ada hanya suasana musim panas di Gurun Sahara. Aku pikir, akan ada pengganti pohon yang telah ditebangi itu, misalnya pohon yang ditanam di tengah bunderan. NO, ACTUALLY !! Anak-anak yang biasa berlatih silat di dalam gedung harus pindah ke balai desa. Yang biasa badminton, harus pindah ke gedung serbaguna yang baru di dekat Lapangan Kedungbule. Aku pun malas badminton lagi karena gedung serbaguna yang baru itu jauh dari rumah. Para pedagang yang mencari rezeki di terminal dekat gedung serbaguna itu juga harus pindah.

Kemudian, ini yang lebih tragis. Jalan Srandakan yang dulu banyak pohon perindangnya, juga tak luput dari tangan proyektor. Aku kaget ketika pada suatu sore, aku pulang dari Jogja, mulai melewati daerah Tegallayang. Loh, kok jadi begini? Mau dibuat apa ni lahan pinggir jalan? Mana warung Kliwon yang jualan gorengan itu? Mungkin, akan dibuat pelebaran jalan juga, pikirku. Pemandangan menyedihkan ini terhampar sampai di Srandakan dekat Tokonya Pak Karsidi. Namun, sampai sekarang, pelebaran jalan belum juga dilakukan. Jadi, sudah sekitar 3-4 bulan kami kehilangan pohon perindang pinggir jalan. Jika dipikir lagi, daripada menunggu pelebaran jalan yang tak pasti, mending jangan tebang pohon-pohon yang sangat bermanfaat untuk kita, mencegah pemanasan global dan mengurangi polusi.

Aku tengok ke kebon belakang rumah, sejenak bernostalgia mengenang masa kecil bersama Novi dan Yuli yang telah pindah rumah ke Jambi. Mana pohon waru kuda-kudaanku? Ditebang oleh seseorang. Alasannya, agar anak-anak tidak memanjatnya. Sungguh alasan yang tidak logis! Kuburan Pupus juga tak terawat. Populasi pohon di kebon berkurang juga, tapi alhamdulillah masih sejuk, meski tak seasyik dulu. Posko PDIP sebelah timur rumah Mas Manto dan kebun di belakangnya telah berubah menjadi bangunan ber-AC yang bisa memicu global warming juga. Studio musik juga sudah tidak ada.

Manusia telah merusak taman masa kecilku. Tak ada lagi tempat bernostalgia. Kini, global warming telah melanda Srandakan. Setiap hari kami mengeluh, mengapa bumi semakin panas. Hal ini tidak terlepas dari ulah manusia. Salah siapa menebangi pohon yang sudah kami rasa sangat nyaman melindungi kami. Di rumah, hanya tiga pohon besar milik keluargaku yang masih selamat dari penebangan: dua pohon mangga dan satu pohon mahoni kurus di selatan konter. Aku berdoa, semoga ketiga pohon itu akan selamat sampai akhir zaman dan pohon mahoni kurus itu bisa menjadi pohon mahoni yang tinggi besar seperti pohon mahoni di samping gedung serbaguna dulu. Adapun pohon-pohon milik tetangga juga lumayan, masih ada yang utuh, meski pohon waru depan warung Mbah Sudi suka ditebang dahannya. Aku sebenarnya tidak setuju dengan tebang-tebangan, meskipun hanya rantingnya. Biasanya, orang-rang yang suka menebang ranting itu beralibi karena ada ular. Ular juga makhluk hidup, mereka juga butuh tempat tinggal.

Paling parah, ketika aku mencucikan motor di Pak Bardi. Pohon mangga dekat situ menjadi korban pelebaran jalan seperti yang kuceritakan tadi. Jadi panas kalau menunggu di situ. Cakruk depan rumah simbah juga sudah hilang diterkam proyektor. Padahal, itu tempat bersejarah bagiku. Banyak kenanganku bersama Mbah Putri yang telah meninggal kurang lebih 10 tahun yang lalu. Dan pohon mete yang sangat langka telah berubah menjadi bangunan.

Jika penebangan pohon ini masih berlanjut, saya tidak yakin apakah Srandakan masih seindah ini. Kasihanilah Sasa, Corrine, Nisa, Tama, dan anak-anak kecil lain di Srandakan yang tidak sempat menikmati sejuknya bermain di bawah rindangnya pohon mahoni dan berjalan di atas dedaunannya yang gugur. Dan kasihanilah diri kita yang sebentar lagi menghitam karena terpaan sinar matahari secara langsung dan susah pernafasan karena tidak ada lagi pohon yang mampu menyerap CO2 dari kendaraan bermotor.

Lalu, apa solusi kita? Tanamlah pohon, pohon apapun yang bisa mengurangi efek pemanasan global dan polusi udara. NO MORE FELLING TREES!! Jangan ada lagi penebangan pohon!! Kalaupun ada, carikan gantinya, secepatnya! Pemerintah Kecamatan Srandakan atau Desa Trimurti seharusnya lebih peduli terhadap lingkungan Srandakan dan mengajak warganya untuk lebih meningkatkan kesadaran akan bahaya global warming. Semoga Srandakan di masa depan adalah tempat yang hijau oleh pepohonan! Amin.

2 komentar:

  1. khayan abdillah3 Februari 2011 03.44

    wuaahahaha kenangan kita yg tak mungkin terlupakan.....

    BalasHapus
  2. Blog yang menarik, kunjungi balik blogku ya ! Ki Ageng Mangir tidak perlu diperangi malah kalau bisa dirangkul, Patih Mondorokolah yang mengusulkan kepada Panembahan Senopati agar Ki Ageng Mangir ditarik kedalam barisan kekuatan (Aliansi) Mataram Mangir, , sebagai murid Sunan Kalijaga langsung, sangat mustahil kalau beliau mengawinkan cucu tercintanya dengan seorang non Muslim yang terjadi adalah proses dakwah Mataram melalui kesenian di wilayah Mangir, oleh karena itu Ki Ageng Mangir Wonoboyo III adalah menantu syah dari Panembahan Senopati, pengislamanya adalah proses panjang yang disetujui dan direstui sepenuhnya oleh Panembahan Senopati dan berakhir dengan pernikahan antara Roro Pembayun dengan Ki Ageng Mangir.Adalah sangat aneh mendeskripsikan singgasana dengan sebuah batu tempat shalat, tidaklah mungkin singgasana Panembahan Senopati dari batu pipih hitam setinggi 40 Cm . Sebagai seorang raja, tidaklah layak mengingkari janjinya menerima Mangir sebagai menantu dihadapan pisowanan agung (kecuali orang lain yang menuliskan kisah palsunya) , Pembunuhan Ki Ageng Mangir pastilah dilakukan oleh orang lain (diduga Raden Ronggo, putra Panembahan Senopati yang memang kontroversial keberadaannya) pembunuhan dilakukan saat Ki Ageng Mangir sedang shalat diatas watu Gilang,ini menandakan hubungan Ki Ageng Mangir yang sangat dekat dengan Panembahan Senopati, pembunuhan Ki Ageng Mangir oleh Raden Ronggo dilakukan dengan watu gatheng yang dihantamkan pada tengkuk Ki Ageng Mangir ketika beliau sedang sujud. oleh karena itu penulis setuju bahwa Ki Ageng Mangir meninggal akibat pecahnya tengkorak Ki Ageng Mangir. pembaca akan setuju dengan penulis bahwa sangat besar kemungkinan Ki Ageng Mangir terbunuh saat sedang shalat.
    Raden Ronggo membunuh Ki Ageng Mangir karena dipengaruhi oleh para adipati yang sedang melakukan perlawanan kepada Panembahan Senopati, dengan cara dipanas panasi bahwa Ki Ageng Mangir jauh lebih sakti dari Raden Ronggo di Mataram,Berita pembunuhan Ki Ageng Mangir oleh Panembahan Senopati di singgasananya adalah sangat tendensius dan mengaburkan kisah sebenarnya yaitu kisah Pengislaman Ki Ageng Mangir oleh Roro Pembayun dibantu Patih Mondoroko atau ki Juru Mertani, Inilah alasan mengapa para orientalis Belanda termasuk HJ De Graff membiarkan cerita sejarah ini berkembang, kemungkinan besar dengan pertimbangan bahwa asumsi Panembahan Senopati membunuh Ki Ageng Mangir adalah bukti kepengecutan dan kebengisan Panembahan Senopati sangatlah sesuai dengan politik "divide et empera" alias politik adu domba Penjajah Belanda disaat itu ,
    Akhirnya atas perintah Panembahan Senopati raden Ronggo terbunuh secara misterius, diduga Raden Ronggo terbunuh oleh tombak kyai Baru Klinting milik Mangir oleh salah satu kerabat Mangir yaitu Patih Rojoniti diluar benteng kraton Kotagedhe. Tampaknya para kerabat Mangir memahami sebab sebab kematian pemimpinnya itu sehingga tidak timbul gejolak di wilayah Mangir juga mereka sudah diberi kesempatan membalas kematian Ki Ageng Mangir pada pembunuhnya.Sementara situs sejarah peninggalan Mangir berupa arca dan candi hindu yang menunjukkan ki Ageng Mangir adalah seseorang yang sebelumnya menganut agama Hindu, justru memperjelas bahwa akhirnya Ki Ageng Mangir mengikuti jejak putra - putri Brawijaya lainnya yaitu masuk Islam.Sementara Roro Pembayun sebagai pahlawan Mataram diungsikan ke tanah Pati tempat kakeknya Ki Ageng Penjawi untuk mengobati luka hati akibat pembunuhan Ki Ageng Mangir suaminya, selanjutnya roro Pembayun melahirkan Bagus Wonoboyo yang ketika besar diasuh oleh pangeran Benawa putra Jaka Tingkir di Kendal Jawa tengah. Jadi kerabat Mataram masih selalu melindungi keberadaan Pembayun dan putranya itu, bahkan Pembayun dan Bagus Wonoboyo masih bertempur di Palagan Jepara 1618 bersama Tumenggung Bahurekso (tokoh kesayangan Sultan Agung), palagan gerilya Pangeran Jayakarta melawan JP Coen di Batavia yang berbasis di Kali Cikeas/ kali Sunter Tapos Depok 1620 dan terakhir palagan akbar Benteng Batavia VOC 1628 - 1629 .kunjungi http://pahlawan-kali-sunter.blogspot.com/

    BalasHapus