Rabu, 05 Desember 2012

Niat Berjilbab: "In the Name of Allah" atau "In the Name of Fashion"?

Bahwa saya, Cipuk Wulan Adhasari dengan akun twitter @Cipukoya pada hari Selasa tanggal 4 Desember 2012 pukul 20.00 WIB atau setidak-tidaknya pada waktu ba'da isya', bertempat di kamar kos paling pojok Kos Ibu Soewarto Nomor IA 08B Pandega Padma Jalan Kaliurang km 6 atau setidak-tidak di tempat lain yang menurut Pasal 84 ayat (1) KUHAP masih berada dalam wilayah hukum Pengadilan Negeri Sleman, telah nge-twit tentang perbedaan niat berjilbab yang "in the name of Allah" dan "in the name of fashion" beserta solusinya. Perbuatan tersebut saya lakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
Wait!! Ini mau bikin artikel bebas atau mau bikin surat dakwaan sih, Puk?

Begini, saya kemarin ngetwit soal perbedaan niat berjilbab yang "in the name of Allah" dan "in the name of fashion" beserta solusinya. Saya sisipkan hashtag #fashion. Namun, karena twitter hanya memuat 140 karakter, saya menulisnya kurang bebas, yang penting esensi dari pesannya tersampaikan. Di sini, saya mau membahasnya lagi, dengan tambahan seperlunya.


Mengapa saya nge-twit tentang itu? Karena saya mengamati perkembangan dunia fashion saat ini, terutama fashion untuk muslimah. Alhamdulillah, sekarang pemakai jilbab semakin bertambah. Jilbab yang dulu dianggap tabu dan cupu, kini semakin cantik dipakai oleh siapa saja. Memang, setiap perempuan itu lebih terlihat cantik kalo pake jilbab. Serius loh! Model jilbab yang dulu terlihat cupu dan bahan kaku, kini lebih mudah dipakai dan lebih modis. Demikian juga dengan baju. Dulu, baju muslim modelnya hanya begitu-begitu saja. Kini, mau model celana, rok, gamis, kaftan, yang dipadu-padan dengan rompi, blazer, atau kardigan, semakin banyak macamnya. Banyak model dan artis yang memakai jilbab dan baju muslim dengan cantiknya, seperti Dian Pelangi, Marshanda, dan yang terbaru Peggy Melati Sukma. Model jilbab dan baju mereka menjadi trendsetter yang kemudian dikembangkan sendiri oleh para wanita. Tak hanya di pesta, tapi juga di ruang kuliah.

Nah, namun yang menjadi pertanyaan besar saya adalah, syar'i nggak ya model baju seperti itu? Well, syar'i atau tidak, yang menilai adalah Allah. Kita sebagai manusia cukup memperjuangkan kesyar'iannya. Yang saya takutkan, kita berjilbab niatnya bukan "in the name of Allah", tapi "in the name of fashion". Jadi, saya mencoba membedakannya, dan bagaimana solusinya.

Di sini ada beberapa kasus yang sering saya jumpai dalam kehidupan sehari-hari, termasuk kehidupan saya sendiri. Ini semua godaan mata untuk para wanita. Namun yang berbahaya, kasus ini terjadi pada wanita berjilbab. Untuk yang tidak berjilbab sih tidak masalah mau memakai baju model apapun. Here they are:

1. Ada baju yang berpayet/renda/hiasan yang cantik di bagian dada. Pasti kita ingin agar payet/hiasan itu diperlihatkan. Kemudian, jilbab dinaikkan dan dikecilkan. Akibatnya, bentuk dada (maaf) keliatan. Ini berarti niatnya "in the name of fashion".


2. Sekarang, model baju yang sedang trending di kalangan anak muda adalah bahan sifon dan brokat. Bahan sifon ini tipis, menyerap keringat, sangat cocok dipakai sekarang di Jogja yang semakin panas. Namun, saking tipisnya, bahan sifon seperti tembus pandang. Ada yang dobelan dalamnya cukup tebal, namun ada yang unfortunately tipis, jadi sama saja, kulit tangan dan pundak terlihat lumayan jelas. Kemudian bahan brokat juga cukup digemari karena bentuk bunga bolong-bolongnya cantik. Namun, jika brokat digunakan di bagian lengan dan si pemakai tidak memakai manset atau dekker, kulit lengannya kelihatan. Ini berarti niatnya masih "in the name of fashion".

3. Belt! Wah, cantiknya belt ini. Fungsinya adalah untuk mengurangi lingkar pinggang baju yang kebesaran. Namun sayang, jika belt ini digunakan, lekukan tubuh dari pinggang kecil dan pinggul besar semakin terlihat jelas. Ini berarti "in the name of fashion".

4. Sama halnya dengan belt, gamis-gamis yang sedang nge-trend saat ini adalah gamis kaos atau bahan lain, yang di bagian pinggangnya terdapat karet/kolor. Jadi, sama seperti memakai belt, lekuk tubuh akan terlihat jelas. "in the name of fashion" lagi.

5. Kemudian, jilbab yang digemari karena mudah dipakai adalah bahan paris. Bahannya tipis, segala macam warna tersedia. Saya biasanya membelinya di toko Raja Murah atau Ababil, hehe. Namun, karena tipisnya, bahkan lebih tipis dari bahan sifon, para pemakai jilbab paris terlihat rambutnya atau tengkuk belakangnya. Memang, tidak terlihat dengan jelas, tetapi setidaknya nerawang. Banyak yang tidak peduli akan hal ini. Ini juga "in the name of fashion".

6.  Jilbab punuk unta. Itu adalah efek dari cepol inner jilbab atau dari rambut yang digulung. Ingat, sesuai sabda Rasul, mereka tidak akan masuk surga dan tidak mencium bau wanginya. Tapi cewek-cewek seolah berlomba tinggi-tinggian cepol, hehe. Sama, ini juga in the name of fashion.


7. Lengan 3/4. Panjang lengan baju tidak menutup sampai pergelangan tangan. Memang tidak terlihat fashionable jika harus memakai dekker. Masih "in the name of fashion".

7. Skinny jean's memang manis. Dulu saya sering memakainya karena ramping sehingga nyaman untuk bergerak. Skinnya jean's juga cocok dipadukan dengan atasan apa saja, baik panjang atau pendek, model apapun. Namun, skinny jean's ini ketat dan memperlihatkan bentuk kaki kita. "in the name of fashion", of course.

8. Kaki itu termasuk aurat loh. Jadi, sebaiknya kita memakai kaos kaki. Namun, kita sering terjebak pada model sendal atau sepatu yang lebih cocok dipakai tanpa kaos kaki. Kaos kaki hanya menghalangi keindahan dari kulit kaki kita. Hmmm, ini masih berniat "in the name of fashion".


Aduh.. Kok banyak banget ya godaannya. Memang, menurut saya, Allah menganugerahkan kita rasa untuk mencintai keindahan, agar bisa mengimbangi laki-laki yang mencintai kekerasan (Calon pelaku KDRT ya??). Godaan, sekali lagi godaan, melihat baju-baju yang lucu itu. Namun, jika memang dari awal niat kita berjilbab adalah "in the name of Allah", kita bisa bebas dari godaan itu. Boleh lah tampil modis. Tapi, unsur syar'i harus dijadikan prioritas.

Baik, kita perlu paham dulu dasar hukum berjilbab. Hal ini terdapat dalam QS Al Ahzab ayat 59: 
"Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, "Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka." Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali , sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."
Yang dimaksud jilbab dalam ayat tersebut adalah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, wajah dan dada. (Al Quran Tafsir Kata Tajwid Kode Angka "Al Hidayah", penerbit Kalim, Tangerang).

Subhanallah, betapa Allah sangat menyayangi wanita sehingga ingin melindungi wanita. Tujuan berjilbab dalam ayat tersebut sangat jelas, yaitu agar lebih mudah dikenali sebagai muslimah, sebab jilbab inilah yang membedakan kita dari orang non-Islam. Tujuan yang kedua adalah agar kita tidak diganggu. Cowok-cowok nakal biasanya mengincar cewek berpakaian seksi. Jadi, tidak ada niat lain dalam berjilbab kecuali untuk merealisasikan ayat tersebut.

Baik, mari kita luruskan niat, sepenuhnya adalah "in the name of Allah", berjilbab karena Allah. Buang jauh-jauh pikiran bahwa kita berjilbab untuk menarik lawan jenis. Tenang saja, jomblowati berjilbab jangan khawatir! Shalihkan diri dulu, dan kita akan mendapatkan suami shalih insya Allah. :)

Nah, solusi konkret untuk mengantisipasi mata wanita yang mudah terjerat oleh baju-baju lucu, ini dia. Namun sekali lagi, niat paling utama adalah berjilbab karena Allah. Modis atau tidak, pasti akan menyesuaikan dengan niat lurus kita.

1. Solusi untuk baju berpayet/hiasan di dada: tutup dengan jilbab. Jadi payet yang indah itu nggak keliatan donk? Iya. Ganti dengan drapery jilbab. Atur jilbab menutup dada dengan membentuk drapery. Akan lebih cantik lagi jika disematkan pin. Sekarang kan lagi trend tuh pin-pin bunga yang lucu. Mau pin ukuran kecil hingga oversize, silakan. Ingat, tutup dada Anda untuk menghindari pandangan nakal cowok-cowok. (saya nggak tega kalo menyebut mereka ikhwan, hehe)

2. Solusi untuk baju berbahan sifon dan brokat: pakailah manset (semacam kaos dalam yang berlengan panjang). Pilih warna yang netral dan sesuai, misalnya hitam atau putih. Jika sifon/brokatnya warna terang, pilih manset warna putih. Jika sifon/brokat berwarna gelap, pilih manset berwarna hitam. Namun, sesuai selera Anda juga, jika ingin membuat efek kontras.

3. Solusi untuk belt dan gamis yang membentuk lekuk tubuh: Tutup dengan rompi! Serius, jadi cantik loh! Atau bisa juga tutup dengan blazer atau kardigan jika Anda tidak merasa panas. Sebenarnya, gamis yang modis dan menutup bentuk tubuh adalah model kaftan, seperti yang pernah dipakai Syahrini. Tapi, saya tidak cocok memakai kaftan karena saya pendek. Ntar tenggelam, donk! Kaftan cocok untuk Anda yang bertubuh tinggi. Well, tapi kalo nggak suka yang aneh-aneh, pakai saja gamis yang simpel tanpa aksen drapery.

4. Solusi untuk jilbab paris: dobeli dengan jilbab warna hitam atau putih, atau warna lain sehingga menghasilkan warna jilbab paris yang tidak terlihat jika didobel. Jika jilbab berwarna gelap, jilbab dalam harus gelap. Demikian juga jika jilbab paris berwarna terang, jilbab daleman juga harus berwarna terang. Dari segi fashion, hal ini untuk membuat jilbab paris yang didobel tampak berwarna seperti aslinya. Dari segi syar'i, untuk menjaga agar jilbab kita tidak nerawang. Jangan sampai leher, tengkuk, dan rambut kita nerawang. Sama seperti pemakaian baju bahan sifon dan brokat, jangan sampai nerawang. Yang saya takutkan, kita termasuk orang yang "berpakaian tetapi telanjang". Ada hadits yang menyebutkan, orang seperti ini tidak akan mencium bau surga, padahal wangi surga itu tercium berkilo-kilo jauhnya. Kemudian, Rasulullah juga melarang kita menggulung rambut seperti punuk unta. Jadi, menggulung rambutnya jangan terlalu besar dan tinggi ya. Turunkan cepolnya ke bawah mendekati tengkuk, sehingga tidak terlalu menonjol. Kemudian, jika shalat, tali kepala jangan ditaruh di bawah cepol, tapi di atas cepol saja agar gulungan rambut tidak membentuk punuk unta.

5. Solusi untuk lengan 3/4: sudahlah, jangan malu memakai deker sebagai penyambung lengan yang tidak mencapai pergelangan tangan. Cari saja deker warna hitam atau putih.

6. Solusi untuk skinny jean's: beralihlah ke rok panjang. Sekarang banyak kok rok yang lucu-lucu. Mau yang lebar, sempit, polos, bermotif, dll. Pakai sesuai atasan. Jika atasan rame motif, rok harus polos. Sebaliknya, jika atasan polos, rok boleh bermotif. Jilbab menyesuaikan saja, lebih baik warna netral. Oya, sama seperti poin 2 dan 4, rok juga tidak boleh nerawang kaki. Sebab, ada rok yang bahannya dari sifon atau bahan lain yang tipis. Jika rok kita ternyata nerawang, dobeli dengan rok lain di dalamnya.

7. Solusi untuk kaos kaki: pakai kaos kaki warna netral dan terang. Kalo mau berfashion, jangan pakai warna gelap, apalagi kaos kaki warna terang tapi alasnya gelap. Kaos kaki seperti ini akan membuat kita malas mencuci. Akibatnya, bau kaki. Ouch! Mati gaya! Memakai kaos kaki setiap hari juga bisa mencegah kaki kita belang karena paparan langsung sinar matahari. Apalagi, panasnya Jogja cukup untuk mengajak kita ber-negroisasi. Untuk sendalnya, paling aman memakai sendal berwarna coklat, hitam, dan krem karena cocok untuk dipadukan dengan baju warna apapun.

(maaf, saya susah mencarikan ilustrasi gambar pada bagian solusi. Memang ajaran Islam itu anti mainstream. Ia datang dalam keadaan terasing dan akan kembali dalam keadaan terasing. Hidup anti mainstream! hehe)

Baik, itu tadi solusi singkat saya mengenai fashion jilbab yang sedang nge-trend. Sekali lagi, syar'i, atau setidak-tidaknya usaha untuk syar'i harus diprioritaskan. Penampilan yang syar'i dan menarik tentu akan membuat dakwah yang kita syiarkan lebih mudah diterima. Sebab, orang awam pasti menilai dari penampilan terlebih dahulu. Ayo masuk surga rame-rame karena jilbab! :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar