Jumat, 10 September 2010

Idul Fitri Seru 1431H (part 1)


Yogyakarta, 1 Syawal 1431 H

Allahuakbar..Allahuakbar..Laa illaha ilallahu allahuakbar. Allahuakbar walillaahilmamdu.
Sebuah kalimat takbir yang agung dan penuh makna. Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar. Allah Maha Besar, untuk Allah segala pujian. Takbir yang memecah keheningan malam. Takbir yang menggema indah di setiap sudut kota yang berpenduduk mayoritas muslim, diserukan oleh orang-orang yang ikut menjadi pelaku peraih kemenangan besar. Kemenangan hakiki atas segala yang telah diusahakan selama satu bulan penuh. Kemenangan yang membuat manusia suci kembali, seperti bayi yang baru dilahirkan.

Sebulan penuh kita berpuasa, menjaga nafsu, menjaga perut, mulut, mata, telinga, hati, dan pikiran dari hal-hal yang tidak dibolehkan.  Sebulan penuh kita merasakan prihatin dengan berlapar-lapar dan berhaus-haus. Sebulan penuh kita meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah serta  aqidah kita. Sebulan penuh kita bertadarus karena Bulan Ramadhan identik dengan turunnya Al Qur’an untuk pertama kali. Sebulan penuh kita menyucikan harta dengan berzakat. Sebulan penuh kita beristigfar karena ada kesempatan bagus untuk mendapatkan ampunan-Nya. Sebulan penuh kita belajar untuk menjadi lebih arif. Kini kita mendapatkan award kita.

Setelah berbuka puasa pada tanggal 30 Ramadhan, rasa syukur yang tidak terkira terus dilantunkan kepada Allah swt, atas kemenangan yang telah Dia berikan. Begitu sayangnya Allah pada umat-Nya, sehingga Dia memberikan pelatihan khusus selama sebulan dengan bonus pahala di sana-sini. Jika Dia tidak sayang pada umat-Nya, pasti tidak ada bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Bulan Ramadhan yang sangat identik dengan bulan puasa adalah bulan untuk berlatih menghadapi segala tantangan di dunia nyata. Rasakan, ketika kita berlapar-lapar, apakah kita mempunyai tenaga untuk marah? Ketika kita diiming-imingi surga, apakah kita akan menghancurkan puasa kita dengan nafsu? Rasakan juga, betapa mereka yang tidak bisa makan enak setiap hari, bahkan untuk mencari sesuap nasi 1x sehari saja susahnya minta ampun. Dengan berpuasa, kita belajar prihatin memahami keadaan mereka. Tantangan selanjutnya adalah penerapan dari rutinitas selama bulan Ramadhan untuk diterapkan kembali di bulan-bulan setelah Ramadhan. Tentu saja, godaan yang akan dihadapi pasti lebih berat.

Ibarat kuliah, Idul Fitri adalah wisuda. Dalam kuliah, kita diberi  materi dan berbagai macam pembelajaran yang akan sangat berguna di dunia kerja nanti. Setelah belajar selama 3 tahun, 4 tahun, atau 5 tahun dst, kita akan diwisuda. Setelah itu, kita akan mandiri, menerapkan ilmu yang telah didapat ketika kuliah. Peranan idealisme pada kuliah dan bulan Ramadhan sangat penting. Jangan sampai kedua momen itu hanya sebagai sebuah peristiwa angin lalu saja. Kuliah tidak hanya masa belajar untuk mendapatkan IP cumlaude, lalu setelah memasuki dunia kerja, lupa pada ilmu yang telah didapat, atau yang lebih parah, ingat ilmunya namun sengaja menyimpang dari ilmu yang telah didapat. Untuk bulan Ramadhan, jangan sampai bulan ini hanya dianggap sebagai ritual tahunan yang terdiri dari 30 hari. Selama sebulan menjadi anak sholeh, namun setelah Ramadhan berakhir, maksiat kembali dilakukan. Semoga kita tidak termasuk orang yang seperti ini. Maka, idealisme sangat penting untuk kita jaga.

Saya seorang muslim, maka saya termasuk orang yang berhak mendapatkan kemenangan jika saya telah melaksanakan pelatihan khusus-Nya selama sebulan. Memang, ibadah saya selama sebulan masih jauh dari sempurna. Untuk besarnya pahala yang saya dapat, wallahualam, saya hanya berprasangka baik kepada Allah.

Perjuangan paling terasa adalah ketika tanggal 30 Ramadhan kemarin. Saya bangun pukul 03.30 untuk bersantap sahur terakhir di bulan Ramadhan 1431 H. Setelah subuhan di masjid, bersih-bersih rumah (kegiatan yang jarang saya lakukan, hehe), mengantar makanan ke tempat simbah kakung, menjaga tempat pengumpulan zakat bersama anak-anak muda Srandakan lain. Kegiatan bersama anak muda Srandakan ini sangat sibuk tapi mengasyikkan. Kegiatan kami akan padat ketika hari raya Islam. Selain menjadi panitia zakat, kami juga mengurusi takbiran, serta syawalan se-Srandakan yang berlangsung setelah shalat Ied. Menjaga zakat cukup repot juga. Kami dibagi dalam dua kelompok, untuk putri tugasnya adalah menampung beras zakat, mencatat, dan yang lebih repot, jika yang diberi bukan beras melainkan uang. Kami sering bingung uang ini untuk zakat maal atau zakat fitrah. Kemudian, menimbang beras zakat ke dalam ukuran ½ kg, 1 kg, dan 2 kg. Tugas untuk anak laki-laki adalah membagikan beras-beras itu kepada warga Srandakan yang kurang mampu. Mereka membagikannya dengan keser (kendaraan seperti gerobak kecil). Ketika anak laki-laki membagikan, anak perempuan masih ada tugas, membungkusi makanan untuk syawalan, menghitung-hitung jumlah makanan dan minuman, bersih-bersih masjid, dan mempersiapkan perlengkapan yang digunakan untuk takbiran. Setelah anak laki-laki selesai membagi zakat, mereka bersih-bersih balai desa Trimurti yang akan digunakan untuk syawalan. Pokoknya sibuk bin sibuk.

Saya sendiri selesai mengurusi zakat dan makanan sekitar pukul 15.00. Sampai di rumah langsung membantu ibuk masak rendang dan tongseng yang akan menjadi pendamping ketupat untuk lebaran. Karena masakan belum matang, saya pun tidak berangkat takjilan (buka bersama dg anak-anak kecil di masjid Srandakan) terakhir Ramadhan 1431 H. Saking sibuknya, saya tidak sempat membantu ortu  membagikan parcel untuk kerabat. Nah, ketika adzan maghrib terdengar, rasa syukur, senang, haru, lega, bangga, campur aduk menjadi satu, menghilangkan capek bekerja seharian. Berkumandanglah takbir Allahuakbar..Allahuakbar..Laa illaha ilallahu allahuakbar. Allahuakbar walillaahilmamdu dari berbagai masjid. Ya Allah, alhamdulillah, terima kasih atas segala nikmat dan kemenangan yang telah Kau berikan. Semoga kami berjumpa kembali dengan Ramadhan tahun depan. Saya pun berbagi kebahagiaan ini dengan teman-teman melalui SMS, sekaligus memohon maaf pada mereka, atas segala khilaf yang telah saya lakukan. Setelah itu, saya bersiap-siap takbir keliling dengan anak-anak Srandakan yang akan dimulai setelah isya’.


Bersambung di Idul Fitri Seru 1431H (part 2)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar