Minggu, 24 Mei 2015

Kupas Tuntas "Jumong: The Book of the Three Hans" (Bag. 1)




Wohooo.. Finally, already finished watching the whole episodes of “Jumong”!! Apa itu Jumong? Jumong adalah drama Korea berjenis sageuk atau historical drama tentang riwayat Jumong, pendiri kerajaan Goguryeo. Sebenarnya, niat saya menonton serial yang berjumlah 81 episode ini karena penasaran sama akting bapaknya si triplet yang gantengnya nggak ketulungan: Song Il Kook. Ketika menonton “The Return of Superman”, Song Il Kook sering dikaitkan dengan perannya sebagai Jumong. Serial Jumong pun telah meraih rating yang tinggi, award yang banyak, dan penonton yang terus meningkat tidak hanya di Korea saja, tetapi juga negara-negara tetangga. Di Indonesia pernah disiarkan oleh Indosiar tahun 2010.
Berlatar kehidupan Korea sekitar tahun 40 SM setelah Dinasti Gojoseon (Go berarti tua/lama) jatuh ke tangan Dinasti Han, serial ini banyak bercerita tentang strategi politik, strategi perang, strategi bisnis, juga kisah cinta yang bisa membuat penonton menghabiskan 1 kotak tissue isi 200 lembar. Demikian sinopsisnya:

Rabu, 25 Februari 2015

Sarpinisme yang Siap Merajalela

Minggu lalu, Hakim Sarpin Rizaldi telah mengetok palu tanda sidang praperadilan Budi Gunawan telah diputus. Putusannya adalah mengabulkan gugatan Budi Gunawan tentang diperkenannya sidang praperadilan untuk memutus tentang sah/tidaknya penetapan status tersangka. Hakim Sarpin juga memutus bahwa penetapan status tersangka oleh KPK kepada BG tidak sah.
Putusan tersebut menjadi perbincangan hangat di kalangan siapapun yang pernah belajar Ilmu Hukum. Seperti yang sudah saya tuliskan di artikel sebelumnya (Baca: PraperadilanAtas Status Tersangka, Bolehkah?), sebenarnya KUHAP tidak mengatur tugas sidang praperadilan untuk menguji sah atau tidaknya penetapan status tersangka. Lalu, bagaimana jika ada pihak yang meminta hakim untuk mengujinya? Maka, mengikuti hukum progresif, hakim tidak boleh menolak mengadili suatu perkara dengan alasan tidak ada hukumnya. Hakim harus menggali nilai-nilai yang hidup di masyarakat.

Minggu, 01 Februari 2015

Praperadilan atas Penetapan Status Tersangka, Bisakah?



Hari ini, digelar sidang praperadilan atas penetapan status tersangka Budi Gunawan oleh KPK. Sidang ini mengundang pro-kontra karena mungkinkah penetapan status tersangka dapat diajukan praperadilan, mengingat hal tersebut tidak diatur dalam KUHAP?
Sebelum masuk kelas “Praperadilan” oleh Bapak Arif Setiawan di PKPA, saya berpendapat bahwa BG tidak bisa mengajukan praperadilan ke PN Jakarta Selatan atas penetapannya sebagai tersangka. Sebab, hal tersebut tidak diatur dalam pasal 1 butir 10 KUHAP yang berbunyi:

Minggu, 25 Januari 2015

Sudah Layakkah KPK Dibubarkan?



Pada pergantian tahun 2009-2010, kita dihebohkan dengan kasus perseteruan antara Polri dengan KPK yang diistilahkan dengan kasus “Cicak vs Buaya”. Kasus ini cukup menyedot perhatian rakyat Indonesia karena kasus ini sangat erat dengan agenda corruptors fight back. Penetapan Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto yang saat itu menjabat sebagai wakil ketua KPK sebagai tersangka oleh Bareskrim Mabes Polri terkesan dipaksakan. Akhirnya, Kejaksaan Agung memberikan depoonering atau mengesampingkan  perkara demi kepentingan umum.

Entah kebetulan atau tidak, kasus yang serupa dengan “Cicak vs Buaya” di atas terulang kembali saat ini. Namun kali ini, ditambah satu tokoh lagi yang ikut bertarung melawan cicak, yaitu si banteng. Diawali dari penetapan calon Kapolri Komjen Budi Gunawan sebagai tersangka oleh KPK atas dugaan gratifikasi dan rekening yang tidak wajar. Kemudian, beredar gambar Abraham Samad berfoto mesra dengan Putri Indonesia 2014, Elvira Devinamira. Namun, setelah dicek, ternyata foto tersebut hasil editan alias fitnah. Kemudian, pada hari Kamis, 22 Januari 2015, Abraham Samad dilaporkan oleh Plt. Sekjend PDIP Hasto Kristiyanto karena sebenarnya Abraham Samad pernah meminta kepada capres Jokowi untuk mendampinginya sebagai cawapres. Belum ada kebenaran dari berita ini.

Jumat, 31 Oktober 2014

Jilbab dan Stigma




 Minggu ini, netizen sedang ramai membicarakan kabinet baru Jokowi – JK yang bernama Kabinet Kerja. Pro-kontra berdatangan. Ada yang meragukan, ada pula yang berharap banyak. Namun, ada seorang menteri yang cukup nyentrik dan menjadi the most wanted woman minggu ini. Beliau adalah Susi Pujiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan.
Yang membuatnya ramai digunjingkan adalah perilakunya yang dipandang kurang sopan sebagai pejabat negara. Saya pun merasa demikian. Saya langsung menganggap sebelah mata kepada perempuan yang merokok dan bertato, meskipun beliau pernah bersekolah di SMA yang sama dengan saya. Namun, ternyata di balik itu semua, Bu Susi adalah perempuan yang kuat. Beliau memimpin maskapai penerbangan perintis Susi Air. Susi Air adalah pesawat yang telah berkontribusi banyak untuk Indonesia. Kisah membanggakan dari Bu Susi adalah ketika beliau dengan pesawatnya mampu mendistribusikan bantuan untuk korban tsunami Aceh 2004 silam. Hanya pesawat Susi Air yang bisa mencapai Aceh waktu itu karena kondisi Aceh akibat tsunami cukup parah. Beliau juga langsung membuat gebrakan baru pada hari pertama masuk kerja di Kementrian Kelautan dan Perikanan, yaitu mengubah jam kantor menjadi pukul 07.00 – 15.00 dengan alasan agar para pegawai tidak terkena macet dan bisa mempunyai waktu lebih untuk keluarga di sore hari.

Selasa, 28 Oktober 2014

Sesungguhnya, Batin Saya Menjerit




Hari ini, handphone saya tidak berhenti berdering. Banyak notifikasi dari Facebook yang masuk. Kebanyakan memberi respon atas postingan saya yang membagikan tulisan dari seorang blogger tentang keresahannya atas media abal-abal. Yang dirasakan oleh blogger tersebut cukup mewakili keresahan yang selama ini saya pendam. Maka, saya pun membagikan blog tersebut ke News Feed Facebook. Saya kira, itu hanyalah hal sepele. Ternyata respon yang masuk begitu luar biasa. Sekitar 40 orang memberi like, juga beberapa mengajak berdiskusi. Saya cuma mau curhat di sini. Izinkan saya nyampah ya, hehe.
Sejak Pemilu 2014, setiap membuka Facebook saya selalu perang batin. Saya bingung, sangat bingung, dengan perkembangan teknologi informasi saat ini. Berita apa saja bisa dibagikan, tidak peduli apakah itu bohong atau fakta. Seolah, Indonesia sedang terpecah belah menjadi dua, yaitu golongan capres nomer 1 dan capres nomer 2. Saya pun mengambil langkah, sekitar bulan Juni-Juli saya tidak membuka Facebook sama sekali. Saya hanya membagikan postingan melalui link Instagram. Saya lebih senang membuka Twitter. Paling tidak, Twitter lebih tenang. Analisis dari beberapa analis politik lebih cerdas daripada orang-orang yang berkeliaran di News Feed Facebook saya.

Minggu, 10 November 2013

I’m Preparing for Marriage


Oh my future husband ..
How are you?
I hope you a good health, a cute smile, and a fresh mind shone by iman

Oh my future husband ..
I can't wait longer on the day
The day when you say a sentence towards my father
A sentence that Allah loves to hear
A sentence that changes everything