Kamis, 27 Januari 2011

Sampai Kapan Kita Akan Terus Dibohongi?



Akhir-akhir ini, rakyat Indonesia seperti sedang berada di kapal Dawn Treader yang terombang-ambing di tengah lautan yang penuh badai. Untuk bisa beristirahat dengan tenang setelah mabuk laut, kita harus segera menemukan pulau yang penuh dengan makanan untuk mengenyangkan perut. Akhirnya, terlihat beberapa pulau. Namun, kita harus berpikir dahulu, pulau manakah yang layak untuk kita singgahi? Ada pulau yang terlihat rimbun penuh pepohonan namun berhantu dan mantra sihir. Ada pulau yang terlihat cantik, namun penuh ada naga yang siap menyembur api setiap waktu. Ada pulau yang sungainya bisa membuat apapun menjadi emas jika dicelupkan ke dalamnya namun tidak bisa diminum. Bisa-bisa, usus kita menjadi emas. Ada juga pulau yang banyak gua untuk beristirahat, namun gua tersebut ternyata gua binatang buas. Di pulau mana kita harus menepi? Jika tidak, badai akan semakin membuat perut mual dan layar kapal ini telah tersobek-sobek oleh angin yang kencang.

Ya, seperti itulah ibaratnya kondisi rakyat Indonesia saat ini. Rakyat Indonesia tidak tahu harus tunduk pada pada siapa, harus percaya pada siapa, sebab pemerintahnya sendiri banyak melakukan kebohongan bersama orang-orang yang berkantong tebal. Sebenarnya, rakyat sudah bosan dengan sandiwara yang diciptakan oleh para petinggi dan pengusaha-pengusaha negeri ini.

Lihat saja, ketika Refly Harun menguak  suap-menyuap yang terjadi di MK. Sebelumnya, Ketua MK, Mahfud MD, memberikan pernyataan bahwa MK 100% bersih. 6 hari setelah itu, Refly Harun membuat tulisan di Harian Kompas yang mempertanyakan kebersihan MK, terkait dugaan suap yang diterima oleh salah satu hakim MK dari seorang calon kepala daerah terpilih Simalungun, Jopinus Saragih. Jopinus mengaku diminta oleh salah satu hakim MK, Akil Mochtar, untuk memberikan uang senilai Rp 1 M agar MK memenangkannya dalam sengketa hasil Pemilukada Simalungun. MK pun membentuk tim investigasi untuk mengungkapnya, dipimpin oleh Refly Harun. Dari hasil investigasi tersebut, ditemukan fakta bahwa memang benar terjadi penyerahan uang dalam jumlah tertentu, terdapat pelanggaran kode etik hakim, serta terdapat keterlibatan anggota keluarga hakim MK, Staf, dan panitera pengganti. Namun, sang hakim mengelak hasil investigasi tersebut. Siapa yang kita percaya, Jopinus dan Refly Harun, atau Akil Mochtar?

Kali ini, bobot kebohongannya lebih besar. Setelah perkara mafia pajak, Gayus Tambunan, divonis 7 tahun penjara+denda Rp 300 juta oleh hakim Albertina Ho dkk, kita juga sempat dibuat bingung dengan statement yang dibuat oleh Gayus dan Satgas Anti Mafia Hukum. Gayus mengatakan bahwa dia hanya dijadikan alat politik. Dia meragukan kemampuan Satgas. Saat pertama kali ditangkap di Singapura, kepergiannya ke Singapura ini atas himbauan dari salah satu anggota Satgas, Denny Indrayana. Bahkan, dia juga berkata bahwa Denny telah memojokkan istrinya serta tuduhan-tuduhan lain yang dialamatkan kepada Denny dan Satgas. Dan yang lebih mengejutkan lagi, Gayus menyebutkan bahwa kasus Antasari Azhar hanyalah rekayasa. Sebelumnya, dia juga menyebutkan terdapat 151 perusahaan yang mengemplang pajak, 3 di antaranya adalah anak perusahaan Grup Bakrie yang menyuapnya senilai US$ 3 juta. Presiden SBY pun memerintahkan Satgas bentukannya ini untuk segera melakukan klarifikasi dalam waktu 1x24 jam. Satgas mengumumkan pada publik tentang isi Blackberry Messeger antara Denny dan Gayus. Dalam transkrip BBM itu, tidak bisa tersimpul bahwa Denny adalah orang yang memerintahkan Gayus untuk kabur ke Singapura. Dia hanya ingin menjemput Gayus di manapun dia berada. Adapun Aburizal Bakrie juga tidak mau mengakui perbuatan yang dilakukan oleh anak perusahaannya. Siapa yang bisa kita percaya? Gayus, Satgas, atau Bakrie? Atau menantu baru Bakrie yang tengah hamil muda? :p

Setiap orang yang melakukan kesalahan dan tidak ingin kesalahannya diketahui orang lain, pasti akan menutupinya dengan kebohongan bagaimanapun caranya. Sebab, dia tidak ingin dihukum oleh pihak yang berwenang dan dicap jelek oleh masyarakat. Namun, kembali ke saat perbuatan itu dilakukan. Jika seseorang berani mengambil tindakan dosa, seharusnya dia juga berani  mempertanggungjawabkan perbuatan itu. Setiap orang pun juga tahu bahwa bohong adalah perbuatan dosa. Namun, dosa ini terpaksa diambil agar kesalahannya tidak diketahui publik. Maka dari itu, jika tidak ingin berkata bohong, jangan pernah melakukan kesalahan!

Ah, sudahi sajalah sandiwara kebohongan-kebohongan ini. Masyarakat sudah tidak tahan ingin segera mengetahui siapa yang benar dan siapa yang salah agar bisa dijadikan pembelajaran untuk menjalani hari-hari berbangsa dan bertanah air yang damai dan bebas korupsi. Awak Kapal Dawn Treader sudah tidak sanggup lagi terus-menerus berada di lautan yang penuh badai. Kita merindukan pulau yang indah dan nyaman!

Rabu, 26 Januari 2011

Ikan Nila Asam Manis ala Chef Cipuk Quinn :)

Liburan telah tiba, daripada bengong di dalam kamar terus, nonton TV, main game, ato internetan sampe mata jebol, ayo keluar kamar bentar, tengok dapur. Lihatlah piring, wajan, pisau, telenan, kompor yang masih pada tempatnya. Mereka tertidur karena tak ada yang menggerakkan. Kamu pun tak ada gunanya kalo liburan cuma males-malesan, sama seperti alat-alat dapur itu.

Sepik ah... Ya sudah, intinya yang mau aku omongin di postingan kali ini adalah, ayo memasak!!!!
Tadi ibuk beli ikan nila 1,5 kg. Mau dibikin apa ya? Saking bingungnya, aku pun nge-tweet dan banyak usul dibakar, dibikin asam manis, balado, atau gulai. Tapi asam manis enak juga tuh.

Ini dia resepnya, saya contek dari internet plus sedikit tips dari ibuk.

Bahan:
- ikan nila 6-7 ekor (tadi karena gede2, trus dipotong-potong ibuk, tp jadinya jelek. Jadi, lebih baik biarkan ikan utuh, tapi agak disayat-sayat supaya bumbu bisa meresap)
- 3 buah cabe merah
- 3 buah cabe hijau
- 4 buah tomat
- 8 buah bawang merah
- 5 buah bawang putih
- 1/2 botol kecil saus tomat
- 200 ml air
- asam jawa
- minyak untuk menggoreng&menumis
- garam dan gula sesuai selera yang masak :p

Cara membuat:
1. Lumuri ikan nila dengan garam dan asam jawa. Tapi tadi sama ibuk dikasih jahe juga. Gapapa. Yang penting amisnya ilang. Diamkan +/- 30 menit
3. Goreng ikan nila sampai matang, tapi jangan sampe hancur. Tiriskan.
2. Sementara menunggu, iris tipis bawang merah, bawang putih, cabe merah dan hijau. Tomat juga diiris kecil-kecil.
3. Siapkan wajan agak besar, beri minyak sedikit untuk menumis bumbu. Masukkan bawang merah dan putih, cabe merah dan hijau, serta tomat. Tumis sampai tomat hancur.
4. Masukkan saus tomat dan air. Biarkan mendidih.
5. Tambahkan garam dan gula. Icipi, apakah kuahnya sudah enak. Pastikan kuahnya enak sebelum dimasukkan ikan sebab jika ikan sudah dimasukkan dan masih ingin menambah bumbu, ikan akan hancur.
6. Setelah kuah dirasa cukup enak, masukkan ikan nila yang sudah digoreng tadi. Biarkan sampai kuah meresap ke ikan dan kuahnya mengental.
7. Angkat, hidangkan dengan lalapan jika suka.
8. Nyam nyam nyam ...

Nah, liburan tu mbok bikin sesuatu yang enak donk, yang diproduktif gitu loh, hehe.

Kamis, 30 Desember 2010

Remember December

Bulan ini sangat luar biasa bagiku. Aku mengalami 3 peristiwa besar yang membuatku mengambil banyak pelajaran. Mungkin, hanya aku yang beruntung mendapatkan ketiganya, 3 peristiwa besar sekaligus dalam satu bulan, di akhir tahun 2010.
Ketiga peristiwa itu adalah:
1. Pemira 2010 FH UGM (3 – 28 Desember)
2. Diklat 32 THA (26 – 29 Desember)
3. Musyawarah Besar KMFH (26 – 30 Desember)

Nanti, akan kuuraikan satu per satu tentang ketiganya (kalo mood, hehe). Saat ini, aku sedang mempersiapkan diri menghadapi UAS, setelah sekian hari aku sedikit melupakan materi kuliah. Fokus, fokus, dan fokus, demi IP cumlaude di setiap semesterku. Amin ..

Demi Lovato - Remember December

Jumat, 24 Desember 2010

Ibuuuu

Iwan Fals - Ibu
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah... penuh nanah

Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas...ibu...ibu

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu

Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas...ibu...ibu....
powered by lirik lagu indonesia

Masih dalam suasana Hari Ibu ..

Jumat, 26 November 2010

Merapi: Antara Mitos dan Iman Kepada Allah

Alhamdulillah, Jogja telah kembali aman. Gunung Merapi tidak lagi mengamuk. Jarak aman diturunkan, dari 20 km menjadi 10 km. Sebagian pengungsi sudah kembali ke rumah masing-masing. Namun, yang rumahnya hancur terkena awan panas, masih ada di barak pengungsian, belum bisa pulang. Duka Merapi ini tidak hanya mengundang trenyuh kasihan pada para korban dan pengungsi, tapi juga trenyuh pada kondisi keimanan umat Islam. (Ulasan di bawah telah dibuat penulis 3 minggu yang lalu, namun baru kali ini sempat diposting)

Allahu Akbar... Ya Allah, Engkau Maha Perkasa, Engkaulah pemilik alam raya ini. Merapi beraksi, mengeluarkan isi perutnya, membumihanguskan Desa Kinahrejo dan sekitarnya, menghujani abu sampai Samudera Hindia, bahkan sampai Jawa Barat! Penulis hanya percaya bahwa semua ini, tidak lain dan tidak bukan, adalah kehendak Allah SWT. Penulis tidak percaya mitos-mitos yang berkembang, entah karena Kerajaan Merapi sedang hajatan atau sedang berselisih paham dengan Keraton Yogyakarta sehingga Merapi ingin mengobrak-abrik Keraton dengan cara hujan abu.

Memang, sudah menjadi kepercayaan orang Jawa, khususnya Yogyakarta, bahwa Yogyakarta ini dikuasai oleh 3 kerajaan, yaitu Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat dengan Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai sultannya saat ini, Kerajaan Laut Selatan dengan ratunya Nyi Roro Kidul, dan Kerajaan Merapi dengan rajanya Mbah Petruk. Adapun juru kuncinya yaitu Mbah Maridjan, kini telah tewas terserang awan panas Merapi saat letusan pertama, 26 Oktober 2010. Saat ini, Merapi sedang menunjukkan ‘hobi’nya, yaitu erupsi. Masyarakat yang sangat percaya mitos Jawa, menganggap bahwa aktivitas Merapi ini karena Keraton Merapi sedang mempunyai masalah dengan Keraton Yogyakarta sehingga ingin membalas dendam pada Sultan HB X. Banyak yang mengatakan bahwa Sultan HB X ini bukanlah Sultan, karena yang dianggap sebagai Sultan Yogyakarta adalah hanya sampai Sultan HB IX. Sultan kali ini bukan orang sakti karena tidak bisa memiliki anak laki-laki yang bisa dijadikan sebagai penerusnya kelak. Maka dari itu, Mbah Maridjan tidak mau tunduk pada Sultan HB X. Dia lebih tunduk pada Sultan HB IX karena yang mengangkatnya sebagai juru kunci Gunung Merapi adalah Sultan HB IX. Jika kondisi Gunung Merapi sudah membahayakan, Sulatan HB X mengingatkan Mbah Maridjan untuk segera turun mengungsi, namun Mbah Maridjan tidak menggubrisnya karena belum ada permintan dari Sultan HB IX. Padahal seperti yang kita ketahui, Sultan HB IX sudah meninggal. Jadi, Mbah Maridjan menunggu bisikan gaib dari Sultan HB IX. Can it? Mbah Maridjan pun hanya berdiam di rumahnya meski petugas-petugas tim SAR, TNI, relawan, dll mengingatkannya untuk segera mengungsi karena sebentar lagi Merapi akan meletus. Akibatnya, Mbah Maridjan pu tak dapat berbuat apa-apa saat awan panas menerjang daerah rumahnya. Saat ditemukan, dia sedang dalam posisi sujud di dapur rumahnya.

(Bersambung, akan diteruskan dengan tulisan yang lebih update)

Rabu, 27 Oktober 2010

Hai Mahasiswa, Bergeraklah!


                Menjadi mahasiswa idealis, oportunis, atau pragmatis, adalah pilihan. Menjadi mahasiswa kupu-kupu, kunang-kunang, atau kura-kura, juga pilihan. Semua pilihan tersebut mempunyai tujuan masing-masing.
                Ketika seseorang telah memasuki bangku kuliah dan meninggalkan bangku sekolah, nama yang disandangnya pun telah berubah, dari siswa menjadi mahasiswa. Artinya, tugas yang disandangnya telah berubah. Masa sekolah adalah masa yang penuh dengan kesenangan. Yang ada di pikiran hanya belajar untuk menjadi juara kelas, olimpiade, dan suksesnya acara yang diorganisasi bersama teman-temannya. Namun, setelah menjadi mahasiswa, aktivitas tersebut harus lebih dikembangkan lagi.
Ambarukmo Plaza, selalu
jadi tempat favorit mahasiswa
untuk menghabiskan waktu, tenaga,
dan uang
                Tipe mahasiswa ada tiga, yaitu mahasiswa kupu-kupu, kunang-kunang, dan kura-kura. Kupu-kupu, berarti kuliah pulang, kuliah pulang. Setelah jam kuliah selesai, langsung pulang ke kos atau mampir dahulu ke perpustakaan meminjam buku. Yang ada di pikirannya adalah berbagai macam cara supaya IP-nya selalu cumlaude setiap semester dan lulus cepat dengan nilai istimewa. Ketika ada seorang mahasiswa memutuskan untuk menjadi mahasiswa bertipe ini, pilihan tersebut tidaklah salah karena dia mempunyai tujuan hidup yang jelas, yaitu lulus cepat dan langsung mendapatkan pekerjaan yang layak. Namun, mahasiswa seperti ini cenderung tertutup, tidak ingin melihat dunia luar, tidak peka terhadap situasi, dan hanya berjuang untuk dirinya sendiri tanpa pernah memberikan kontribusi yang berarti untuk kampusnya. Adapun mahasiswa bertipe kunang-kunang atau kuliah nangkring, kuliah nangkring, adalah mahasiswa yang suka bersenang-senang. Setelah jam kuliah selesai, dia langsung pergi ke mall, bioskop, nge-game, dan aktivitas hiburan lainnya. Yang ada dalam pikirannya adalah hanya ingin refreshing setiap hari karena kuliah yang dijalaninya terasa berat sehingga mencari pelampiasan pada hiburan dan konsumerisme. Mahasiswa yang bertipe seperti ini tidak peka terhadap situasi yang sedang terjadi dan sangat sukar untuk dinasehati. Kuliah hanya dianggap sebagai aktivitas harian yang tanpa makna. Terakhir, mahasiswa bertipe kura-kura atau kuliah rapat, kuliah rapat, adalah mahasiswa yang sangat peka terhadap situasi. Setelah jam kuliah selesai, dia menyempatkan diri untuk beroganisasi. Misalnya, berbagi pikiran dengan teman-temannya tentang isu yang sedang hangat, bermusyawarah untuk mengadakan sebuah acara yang bermanfaat, atau bergabung dengan pers mahasiswa untuk mengkritik kebijakan yang kurang bersahabat sekaligus menyuarakan kebenaran. Mahasiswa seperti ini lebih mudah untuk bersosialisasi dengan siapapun, tidak mementingkan dirinya sendiri karena merasa bahwa dia tidak hidup sendiri di dunia ini dan masih banyak problema yang harus dipikirkan bersama teman-teman.
                Saat ini, Indonesia sedang dalam kondisi terpuruk. Sebagai generasi muda pengubah bangsa, sudah menjadi tugas mahasiswa untuk lebih peka terhadap situasi. Generasi penerus bangsa sudah tidak dibutuhkan lagi oleh bangsa ini. Sebab, penerus bangsa berarti meneruskan keterpurukan bangsa ini. Aksi yang dibutuhkan adalah sebuah perubahan. Hal ini berarti harus lahir generasi pengubah bangsa.
                Usia mahasiswa adalah usia muda yang sangat potensial untuk melakukan perubahan karena dipenuhi oleh ide-ide cemerlang. Langkah konkret yang bisa dilakukan adalah dimulai dari perannya dalam kehidupan kampus. Anggap saja, kampus adalah bangsa yang harus dibenahi. Setiap kebijakan yang keluar dari pihak rektorat harus dikaji lebih dalam agar tidak terjadi kesalahpahaman dari berbagai pihak karena tidak setiap kebijakan pasti baik untuk mahasiswanya. Ketika ada sebuah kebijakan yang tidak menguntungkan banyak pihak apalagi masyarakat luas, mahasiswa harus berani memberikan masukan kepada rektoratnya untuk meninjau kembali kebijakan yang telah dikeluarkan tersebut. Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan kajian dan membuat sebuah tulisan kritikan di media kampus atau media di luar kampus. Jika masalah tersebut sudah mencapai tingkat di atas ambang kewajaran, aksi turun ke jalan bisa dilakukan.
                Kampus yang memiliki mahasiswa dari berbagai penjuru negeri, pasti mempunyai pengaruh yang besar tehadap daerah sekitar, bahkan sampai negara. Maka, jika kampus tersebut mengeluarkan sebuah kebijakan yang tidak bisa diterima oleh masyarakat sekitar, mahasiswa harus bergerak, jangan hanya diam. Masyarakat luar kampus tidak mungkin bisa memprotes kebijakan tersebut, tetapi hanya terkena dampaknya. Jika bukan mahasiswa dan civitas akademika yang memperjuangkan nasib masyarakat, siapa lagi? Secara tidak langsung, masyarakat menitip pesan pada mahasiswa untuk melakukan suatu perubahan yang bisa berpengaruh pada masyarakat luas.
                Sangat disayangkan apabila mahasiswa hanya menghabiskan waktunya di bangku kuliah dan mall tanpa pernah merasakan serunya diskusi bersama teman-teman dan panasnya terik matahari saat aksi. Mahasiswa yang hanya berjuang untuk dirinya sendiri tidak mempunyai sesuatu yang bisa dipersembahkan untuk kampusnya. Maka, ketika memasuki dunia kerja, dia akan terkejut karena tidak mempunyai pengalaman organisasi. Berbeda dengan mahasiswa yang mempunyai pengalaman organisasi, pasti akan terbiasa menghadapi masalah dalam dunia kerja dan bisa berpikir lebih dewasa. Jangan biarkan usia yang potensial ini berlalu begitu saja. Mahasiswa dianugerahi intelektual yang luar biasa yang harus digunakan untuk kemajuan bangsa. Banyak hal yang harus dibenahi di sekitar kita. Jadilah mahasiswa ideal bertipe kura-kura, yang tidak hanya pintar berorganisasi, tetapi juga berprestasi.

Aksi pertamaku: 090909 di Gedung DPRD DIY, menuntut DPR segera menyelesaikan UU Pengadilan Tipikor
Jangan tanya apa yang diberikan oleh kampus untukmu, tetapi tanyalah apa yang kamu berikan untuk kampusmu!